A. Bayi Baru Lahir Normal
a. Pengertian
Menurut
Saifuddin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam
pertama kelahiran.
Menurut
Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4
minggu. Lahirrnya biasanya dengan usia gestasi 38 – 42 minggu.
Menurut
Dep. Kes. RI, (2005) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000
gram.
Menurut
M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 –
4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan
congenital (cacat bawaan) yang berat.
(Saifudin
Abdul Bahri. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
neonatal.YBP_SP.Jakarta)
b. Ciri – Ciri Bayi Baru Lahir
1.
Berat badan 2500 - 4000 gram
2. Panjang badan 48 - 52
cm
3. Lingkar dada 30 - 38 cm
4. Lingkar kepala 33 - 35 cm
5. Frekuensi jantung 120 - 160
kali/menit
6. Pernafasan ± - 60 40
kali/menit
7. Kulit kemerah - merahan dan
licin karena jaringan sub kutan cukup
8. Rambut lanugo tidak
terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9. Kuku agak panjang dan lemas
10. Genitalia;
·
Perempuan
labia mayora sudah menutupi labia minora
· Laki – laki testis sudah turun, skrotum
sudah ada
11. Reflek hisap dan menelan
sudah terbentuk dengan baik
12. Reflek morrow atau gerak
memeluk bila dikagetkan sudah baik
13. Reflek graps atau
menggenggan sudah baik
14. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24
jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan
c. Reflek – Reflek Fisiologis
1. Mata
a.
Berkedip atau reflek corneal
Bayi berkedip pada
pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek kearah
kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka menunjukkan
adanya kerusakan pada saraf cranial.
b.
Pupil
Pupil kontriksi bila
sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang hidup.
c.
Glabela
Ketukan halus pada
glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat.
2.
Mulut dan tenggorokan
a.
Menghisap
Bayi harus memulai
gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon terhadap rangsangan,
reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun,
seperti pada saat tidur.
b.
Muntah
Stimulasi terhadap
faring posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya selang harus menyebabkan
bayi mengalami reflek muntah, reflek ini harus menetap sepanjang hidup.
c.
Rooting
Menyentuh dan menekan
dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi membalikkan kepala kearah sisi
tersebut dan mulai menghisap, harus hilang pada usia kira – kira 3 -4 bulan
d.
Menguap
Respon spontan terhadap
panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah udara inspirasi, harus menetap
sepanjang hidup
e.Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau
ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar harus menghilang pada usia 4
bulan
f.Batuk
Iritasi membrane mukosa
laring menyebabkan batuk, reflek ini harus terus ada sepanjang hidup, biasanya
ada setelah hari pertama lahir
3.
Ekstrimitas
a. Menggenggam
Sentuhan
pada telapak tangan atau telapak kaki dekat dasar kaki menyebabkan fleksi
tangan dan jari
b.
Babinski
Tekanan di telapak kaki
bagian luar kearah atas dari tumit dan menyilang bantalan kaki menyebabkan jari
kaki hiperektensi dan haluks dorso fleksi
c.
Masa tubuh
(1). Reflek moro
Kejutan atau perubahan
tiba – tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi dan abduksi ekstrimitas
yang tiba –tiba serta mengisap jari dengan jari telunjuk dan ibu jari membentuk
“C” diikuti dengan fleksi dan abduksi ekstrimitas, kaki dapat fleksi dengan
lemah.
(2). Startle
Suara keras yang tiba –
tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan tetap tergenggam
(3). Tonik leher
Jika kepala bayi
dimiringkan dengan cepat ke salah sisi, lengan dan kakinya akan berekstensi
pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi.
(3). Neck – righting
Jika bayi terlentang,
kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang tubuh membalik kearah
tersebut dan diikuti dengan pelvis
(4)
Inkurvasi batang tubuh (gallant)
Sentuhan
pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak kea
rah sisi yang terstimulasi.
d. Penanganan
Segera Bayi Baru Lahir
Menurut
JNPK-KR/POGI, APN, (2007) asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir
ialah :
1. Pencegahan
Infeksi
Cuci tangan
dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
Pakai sarung
tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
Pastikan semua
peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, penghisap lendir
DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
Pastikan semua
pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam
keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer,
stetoskop.
2. Melakukan
penilaian
Apakah bayi
menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan ?
Apakah bayi
bergerak dengan aktif atau lemas?
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas
megap – megap atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru
lahir.
3. Pencegahan
Kehilangan Panas
Mekanisme kehilangan
panas
a. Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada
permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi
tidak segera dikeringkan.
a. Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak
langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin, co/ meja, tempat
tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap
panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda – benda tersebut
b. Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat
bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, co/ ruangan yang dingin, adanya
aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi, atau pendingin
ruangan.
c. Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena
bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah
dari suhu tubuh bayi, karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas
tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)
Mencegah
kehilangan panas
Cegah terjadinya kehilangan panas
melalui upaya berikut :
a. Keringkan bayi
dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh
bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai
pernapasannya.
b. Selimuti bayi
dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah
basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat, bersih,
dan kering)
c. Selimuti bagian
kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas
permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika
bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu
untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat
menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI
harus dimulai dalam waktu satu (1) jam pertama kelahiran
e. Jangan segera
menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah
kehilangan panas tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu
selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi
dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi
dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam (^) jam
setelah lahir.
Praktik memandikan bayi yang
dianjurkan adalah :
(1). Tunggu
sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi
mengalami asfiksia atau hipotermi)
(2). Sebelum
memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,5º C –
37º C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5º C, selimuti kembali tubuh bayi
secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat
tidur atau lakukan persentuhan kuli ibu – bayi dan selimuti keduanya. Tunda
memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling
sedikit) satu (1) jam.
(3). Tunda untuk
memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
(4). Sebelum bayi
dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin.
Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan
beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh
bayi setelah dimandikan.
(5). Memandikan
bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
(6). Segera
keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering
(7). Ganti handuk
yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi
secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik
(8). Bayi dapat
diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik
(9). Ibu dan bayi
disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f. Tempatkan bayi
di lingkungan yang hangat
g. Idealnya bayi
baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk menjaga
bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI
4. Membebaskan
Jalan Nafas nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi
normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung
menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut
:
Letakkan bayi
pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
Gulung sepotong
kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala
tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
Bersihkan
hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan yang dibungkus
kassa steril.
Tepuk kedua
telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering
dan kasar.
Alat penghisap
lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen
dengan selangnya harus sudah ditempat
Segera lakukan
usaha menghisap mulut dan hidung
Memantau dan
mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)
Warna kulit,
adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
5. Merawat tali
pusat
Setelah plasenta
dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem plastik
tali pusat pada puntung tali pusat.
Celupkan tangan
yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klonin 0,5 % untuk membersihkan
darah dan sekresi tubuh lainnya.
Bilas tangan
dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
Keringkan tangan
(bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan kering.
Ikat ujung tali
pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat
tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau steril).
Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap klem tali pusat tertentu.
Jika menggunakan
benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat dan dilakukan
pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang
berlawanan.
Lepaskan klem
penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klonin 0,5%
Selimuti ulang
bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup
dengan baik..(Dep. Kes. RI, 2002)
6. Mempertahankan
suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir, bayi belum mampu
mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk
membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus di bungkus hangat. Suhu tubuh
bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu
tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat (Prawiroharjo, 2002).
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur
temperatur tubuhnya secara memadai dan dapat dengan cepat kedinginan jika
kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang mengalami kehilangan panas
(hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal, jika bayi dalam
keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin akan mengalami hipoterdak, meskipun
berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi prematur atau berat lahir rendah
sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.
Pencegah terjadinya
kehilangan panas yaitu dengan :
Keringkan bayi
secara seksama
Selimuti bayi
dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
Tutup bagian
kepala bayi
Anjurkan ibu
untuk memeluk dan menyusukan bayinya
Lakukan
penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
Tempatkan bayi
di lingkungan yang hangat. (Dep. Kes. RI, 2002)
7. Pencegahan
infeksi
Memberikan
vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan
karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perlu
di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi
di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg IM.
Memberikan obat
tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena
klamidia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat mata pada jam pertama
persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %,
sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi lahir.
Perawatan mata harus segera
dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan
tali pusat
Yang lazim dipakai adalah larutan
perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera
setelah lahir
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap
infeksi, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini :
Cuci tangan
secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
Pakai sarung
tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
Pastikan bahwa
semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah didinfeksi
tingkat tinggi atau steril, jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang
bersih dan baru.
Pastikan bahwa
semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi telah dalam
keadaan bersih.
Pastikan bahwa
timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang
akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci
setiap setelah digunakan). (Dep.kes.RI, 2002)
8. Identifikasi
bayi
Alat pengenal
untuk memudahkan identifikasi bayi perlu di pasang segera pasca persalinan.
Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir
dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
Peralatan
identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien,
di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
Alat yang
digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai,
tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas
Pada alat atau
gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya), tanggal lahir, nomor bayi,
jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu
Di setiap tempat
tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor
identifikasi. (Saifudin,, 2002)
B. Bayi Baru
Lahir Bermasalah
a. Bercak mongol
Bercak Mongol
adalah bercak berwarna biru yang biasanya terlihat di bagian atau daerah
sacral, walaupun kadang terlihat di bagian tubuh yang lain. Bercak mongol
biasanya terjadi pada anak-anak yang dilahirkan oleh orang tua Asia dan Afrika,
kadang-kadang terjadi pada anak-anak dengan orangtua mediterania. ( Mayes Midwifery Textbook).
b. Hemangioma
Hemangioma
adalah proliferasi dari pembuluh darah yang tidaknormaldan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah. Hemangiomamerupakan tumor vaskular jinak terlazim pada bayi dan anak. Meskipun
tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada orang tua, contohnya adalah cherryhemangioma atau
angioma senilis yang
biasanya jinak, kecil red-purple papule pada kulit orang tua (Olmstead,et al 994; Pieter et al 1997;Hamzah, 1999)
c. Ikterik
Yaitu disklorisasi
pada kulit atau organ lain karena penumpukan bilirubin. (Usepno Hassan, Husein Alatas (ed), Hepatologi Anak dalam Buku Kuliah
Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Buku 2, edisi 7, Bab 20, Infomedia, Jakarta, 1997,
hal : 519-522.)
d. Muntah dan gomoh
Gumoh
adalah keluarnya isi lambung melalui mulut (seperti muntah) terjadi pada bayi
karena katup antara lambung dan esophagus (kerongkongan) belum sempurna dan
adanya udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan masuk ke dalam
lambung bayi.
e. Oral trush
Oral trush adalah
adanya bercak putih pada lidah, langit – langit, pipi bagian dalam (Wong,
1995,dikutip dari buku asuhan
keperawatan ibu dan anak (untuk perawat dan bidan),Nursalam 2005).
f. Diaper rash
Ruam popok adalah
iritasi pada kulit bayi Ibu di daerah pantat. Ini bisa terjadi jika ia popok
basahnya telat diganti, popoknya terlalu kasar dan tidak menyerap keringat,
infeksi jamur atau bakteri atau bahkan eksema. (Conelly PK, Windle Mary L,
Schwartzm RA, Editors. Agrawal R, Sammeta V. Diaper Dermatitis. 2004)
g. Seborrhea
Dermatitis seboroik
adalah infeksi jamur superfisial pada kulit, menyerang daerah kulit yang banyak
terdapat kelenjar sebasea dan merupakan salah satu penyakit kulit akibat respon
imunitas peradangan yang abnormal terhadap jamur malassezia.(Ismail,1991). (Djuanda Adhi,
dkk.2002.“Dermatitis Seboroik” dan “Tinea Kapitis”, Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Balai Penerbit (FKUI): Jakarta.)
h. Bisulan
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Bisul (bahasa Latin: abscessus) adalah sekumpulan nanah (neutrofil mati) yang telah terakumulasi di rongga
di jaringan setelah terinfeksi sesuatu (umumnya karena bakteri atau parasit) atau barang asing (seperti luka
tembakan/tikaman.
i. Milliariasis
Milliariasis adalah dermatosis yang
disebabkan oleh retens keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat. ( Lia, Dewi,
Vivian Nanny. ASUAHAN NEONATUS BAYI DAN ANAK
BALITA . Saleemba
Medika . Jakarta . 2010)
j. Diare
Diare adalah buang air
besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan
demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni
100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto,
1999).
k. Obstipasi
Obstipasi adalah pengeluaran mekoniun tidak terjadi pada 24 jam
pertama sesudah kelahiran atau kesulitan atau keterlambatan pada faeces yang
menyangkut konsistensi faeces dan frekuensi berhajat.
l. Infeksi
Infeksi dalam kamus
kedokteran merupakan penembusan dan penggandaan didalam tubuh dari organisme
yang hidup ganas seperti bakteri,virus,dan jamur.
C. Kelainan Bawaan Pada Bayi Baru Lahir
a. Labioskiziz dan labiopalatoskiz
Labioskizis dan labiopalatoskizis
merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan
yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana bibir atas bagian
kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. . (Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010.Asuhan
Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika)
b. Atresia esophagus
Atresia esofagus adalah kelainan bawaan
di mana ujung saluran esofagus buntu, . (Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010.Asuhan
Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika)
c. Atresia anus
Atresia anus (malformasi
anorektal/anus imperforate) adalah bentuk kelainan bawaan yang menunjukan
keadaan tidak ada anus, atau tidak sempurnanya bentuk anus. (Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010.Asuhan
Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika)
d. Hirschprung
Penyakit
Hirschsprung (Megakolon Kongenital) adalah suatu penyumbatan pada usus besar
yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena sebagian dari
usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya.
e. Obstruksi biliaris
Obstruksi biliaris adalah tersumbatnya
saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus untuk
dikeluarkan. (Ngastiyah,2005)
f. Omfalokel
Omphalocele adalah suatu keadaan dimana
dinding perut mengandung struktur muskulo aponeuresis yang kompleks.
Aponeuresis adalah lembaran jaringan mirip tendon yang lebar serta mengkilap
untuk membungkus dan melekatkan otot yang satu dengan yang lainnya dan juga
dengan bagian yang digerakkan oleh otot tersebut. (Ngastiyah
1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta:EGC.)
g. Hernia diafragmatika
Hernia diafragmatika adalah tonjolan organ perut ke dalam
rongga dada melalui suatu lubang pada diafragma. Akibat penonjolan viscera
abdomen ke rongga dada melalui suatu pintu pada diafragma. (Ngastiyah 1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta:EGC.)
h. Atresia duodeni
Atresia Duodeni adalah tidak terbentuknya atau
tersumbatnya duodenum
(bagian terkecil dari usus halus) sehingga tidak dapat dilalui makanan yang
akan ke usus.
i.
Meningokel
Meningokel adalah
selaput otak menonjol keluar pada salah
satu sela tengkorak tapi biasanya di daerah belakang kepala. (Rukiyah,Yeyeh dkk.
2010. Asuhan
neonatus bayi dan anak balita. Jakarta: CV Trans Info Media)
j. Hidrosefalus
Hidrosefalus adalah suatu
keadaan dimana terjadi penambahan volume dari cairan serebrospinal (CSS) di
dalam ruangan ventrikel dan ruangan sub arakhnoid.Keadaan ini disebabkan oleh
karena terdapat produksi cairan serebrospinal yang berlebihan, obstruksi
jalur cairan cerebrospinal maupun gangguan absorpsi cairan serebrospinal. (Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan. Buku
kedokteran EGC, Jakarta.)
k. Fimosis
Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini
juga menyebabkan bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga
kulit prepusium menggelembung seperti balon. (Kumpulan
Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995: 428-435)
l. Hipospadia
Hipospadia
adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan
di ujung penis. Hipospadia
merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir. (Mansjoer, Arif, dkk.
(2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius.
D. Trauma
pada bayi baru lahir
a. Caput
suksedaneum
Caput succedaneum adalah edema kulit kepala anak yang
terjadi karena tekanan dari jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan
difus, kadang-kadang bersifat ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak
kulit kepala, yang mengenai bagian kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran
verteks. Karena tekanan ini vena tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi
hingga cairan masuk ke dalam jaringan longgar dibawah lingkaran tekanan dan
pada tempat yang terendah. Dan merupakan benjolan yang difus kepala, dan
melampaui sutura garis tengah. (Obstetri
fisiologi, UNPAD.1985)
Cephal
Hematoma
Cephal
hematoma adalah perdarahan sub periosteal akibat kerusakan jaringan poriestum
karena tarikan atau tekanan jalan lahir. (P.Sarwono.2002.
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal)
- Trauma pada fleksus brachialis
Fleksus
brachialis adalah anyaman (latin : fleksus ) serat saraf yang berjalan dari
tulang belakang C4-T1, kemudian melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya
keseluruh lengan ( atas dan bawah ).
- Fraktur klavikula dan fraktur humerus
E. Neonatus
beresiko tinggi
a. BBLR
Bayi
Berat Lahir Rendah (BBLR) secara definitif telah banyak dikemukakan oleh banyak
ahli. Berikut ini adalah definisi BBLR yang dikemukakan oleh beberapa ahli
yaitu: BBLR didefinisikan oleh International classification of Diseases dari World Health Organisation (WHO), sebagai
kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram (Saifuddin,
2001). WHO menyebutkan bahwa semua bayi yang baru lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram disebut low birth weight infants atau disebut
dengan BBLR (Surasmi, 2003)
b. Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonaturum adalah keadaan dimana bayi yang baru
diahirkan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan.(Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi dan
Obstetri Patologi. Jakarta : EGC)
c. Sindroma gangguan pernapasan
Merupakan kumpulan gejala
yang terdiri dispnea, frekuensi pernafasan yang lebih dari 60 kali per menit
,adanya sianosis, adanya rintihan bayi saat ekspirasi serta adanya retraksi
suprasternal,interkostal,epigastrium saat inspirasi.
- Kejang
f. Hypotermi
Bayi
hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu normal
bayi adalah 36,5-37,5°C. Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua
kaki dan tangan teraba dingin. Bila suhu tubuh bayi sudah teraba dingin maka
bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat
bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low Reading
thermometer) yang dapat
mengukur sampai 25°C.(Prawirohardjo,2006).
- Hipertermi
Hipertermi adalah keadaan
suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal yaitu suhu tubuh mencapai sekitar 40o secara terus menerus . (Carpenito , lynda jual . 2006 . buku
saku diagnosa keperawatan edisi 10 , EGC , Jakarta).
- Hypoglikemi
Hipoglikemia (hypo+glic+emia) merupakan
konsentrasi glukosadalam darah berkurangnya secara abnormal yang dapat
menimbulkan gemetaran, keringat dan sakit kepala apabila kronik dan
berat,dapat menyebabkan manifestasisusunan saraf pusat (KamusKedokteran
Dorland:2000)
i.
Tetanus neonatorum
Tetanus
neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan
oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang
menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari
Saifuddin, 2000)
F.
Kegawatdaruratan Neonatus
Neonatus adalah organism yang
berada pada periode adaptasi kehidupan intrauterin ke ekstrauterin. Masa
neonatus adalah periode selama satu bulan(lebih tepat 4 minggu atau 28 hari
setelah lahir).
Kondisi neonatus yang memerlukan resusitasi :
1. Sumbatan jalan napas akibat lender/ darah/mekonium atau akibat lidah
yang jatuh ke posterior.
2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada
ibu. Misalnya, obat anestesik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium
sulfat, dan sebagainya.
3. Kerusakan neurologis.
4. Kelainan/ kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan
saraf pusat, dan/ atau kalainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan
pernapasan/ sirkulasi.
5. Syok hipovolemik, misalnya akibat kompresi tali pusat atau
perdarahan.
Penyebab kematian yang paling cepat
pada neonates adalah asfiksia dan perdarahan. Asfiksia perinatal merupakan
penyebab mortalitas dan morbiditas yang penting. Akibat jangka panjang,
asfiksia perinatal dapat diperbaiki secara bermakna jika gangguan ini diketahui
sebelum kelahiran (mis; pada keadaan gawat janin) sehingga dapat diusahakan
memperbaiki sirkulasi/ oksigenasi janin intrauterine atau segera melahirkan
janin untuk mempersingkat masa hipoksemia janin yang terjadi.
Asfiksia yang terdeteksi sesudah
lahir, prosesnya berjalan dalam beberapa fase/ tahapan.
1. Janin bernapas megap-megap (gasping), diikuti dengan
2. Masa henti napas (fase henti napas primer).
3. Jika asfiksia berlanjut terus, timbul pernapasan megap-megap yang
kedua selama 4-5 menit (fase gasping kedua) diikuti masa henti
napas kedua (henti napas sekunder).
Semua neonates dalam keadaan apapun
mempunyai kesukaran untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan yang dingin.
Neonates yang mengalami asfiksia khususnya, mempunyai system pengaturan suhu
yang lebih tidak stabil dan hipotermia ini dapat memperberat/ memperlambat
pemulihan keadaan asidosis yang terjadi.
Keadaan bayi pada menit ke-1 dan
ke-5 sesudah lahir dinilai dengan skor Apgar (appearance, pulse, grimace,
activity, respiration). Nilai pada menit pertama untuk menentukan seberapa
jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan
asidosis dan kelangsungan hidup. Nilai pada menit kelima untuk menilai
prognosis neurologis.
Asfiksia berat (nilai Apgar 0-3)
diatasi dengan memperbaiki ventilasi paru dengan memberi oksigen tekanan
langsung dan berulang. Ada pembatasan dalam penilaian Apgar ini.
1. Resusitasi segera dimulai jika diperlukan dan tidak menunggu sampai
ada penilaian pada menit pertama.
2. Keputusan perlu tidaknya resusitasi maupun penilaian respons
resusitasi cukup dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktivitas
respirasi, dan tonus neuromuscular, bukan dengan nilai Apgar total. Hal ini
untuk menghemat waktu.
TABEL 10-1 Nilai Apgar
|
Tanda vital
|
0
|
1
|
2
|
|
Denyut jantung
|
Tidak terdengar
|
<>
|
>100/ menit
|
|
Pernapasan
|
Hilang
|
Lambat/ tidak teratur/ lemah
|
Normal, bayi menangis
|
|
Tonus otot
|
Flaksid
|
Sedang
|
Baik, gerakan aktif
|
|
Refleksi iritasi(distorsi wajah sebagai respons terhadap kateter
aspirasi)
|
Tidak ada reaksi
|
Reaksi berkurang
|
Reaksi normal
|
|
Warna kulit
|
Biru atau pucat
|
Badan merah muda, ekstremitas biru
|
Seluruhnya merah muda
|
Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar.
1. Nilai Apgar menit pertama 7-10, biasanya bayi hanya memerlukan
tindakan pertolongan berupa pengisapan lender atau cairan dari orofaring.
Tindakan ini harus dilakukan secara hati-hati, karena pengisapan yang terlalu
kuat/traumatic dapat menyebabkan stimulasi vagal dan bradikardia sampai henti
jantung.
2. Nilai Apgar menit pertama 4-6, hendaknya orofaring cepat diisap dan
diberika oksigen 100%. Bayi diberi stimulasi sensorik dengan tepukan atau
sentilan ditelapak kaki dan gosokan selimut kering ke punggung. Frekuensi
jantung dan respirasi terus dipantau ketat. Jika frekuensi jantung menurun atau
jika ventilasi tidak adekuat, harus diberikan ventilasi tekanan positif dengan
kantong resusitasi dan sungkup muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi,
gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung mulut.
3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang menunjukkan bayi mengalami
depresi pernapasan yang berat dan orofaring harus cepat diisap. Ventilasi
tekanan positif dengan oksigen 100% sebanyak 40-50 kali per menit harus segera
dilakukan. Kecukupan ventilasi dinilai dengan memerhatikan gerakan dinding dada
dan auskultasi bunyi napas. Jika frekuensi jantung tidak meningkat sesudah 5-10
kali napas, kompresi jantung harus dimulai. Frekuensi 100-120 kali per menit
dengan 1 kali ventilasi setiap 5 kali kompresi (5:1).
Penyulit yang mungkin terjadi
selama resusitasi meliputi hipotermia, pneumotoraks, trombosis vena, atau
kejang. Hipotermia dapat memperberat keadaan asidosis metabolik, sianosis,
gawat napas, depresi susunan saraf pusat, dan hipoglikemia. Pneumotoraks diatasi
dengan pemberian ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat
dan tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan komplikasi ini. Jika bayi
mengalami kelainan membrane hialin atau aspirasi mekonium, resiko pneumotoraks
lebih besar karena komplians jaringan paru lebih lemah. Tombosis vena diatasi
dengan pemasangan infuse/ kateter intravena dapat menimbulkan lesi trauma pada
dinding pembuluh darah, potensial membentuk thrombus. Selain itu, infus larutan
hipertonik melalui pembuluh darah tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis
hati dan thrombosis vana.
Pencegahan hipotermia merupakan
komponen asuhan neonatus dasar bayi baru lahir tidak mengalami hipotermia.
Hipotermia terjadi jika suhu tubuh di bawah 36,5°C (suhu mormal pada neonates
adalah 36,5-37,5°C) pada pengukuran suhu melalui ketiak. Bayi baru lahir mudah
sekali terkena hipotermi. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut.
1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan
sempurna.
2. Permukaan tubuh bayi relatif luas.
3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
4. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak
kedinginan.
Hipotermia pada bayi baru lahir
timbul karena ada penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi akibat:
1. Radiasi, yaitu panas tubuh bayi memancar ke lingkungan di sekitar
bayi yang lebih dingin. Misalnya, bayi baru lahir diletakkan di tempat yang
dingin.
2. Evaporasi, yaitu cairan ketuban yang membasahi kulit bayi menguap.
Misalnya, bayi lahir tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
3. Konduksi, yaitu pidahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung
kontak dengan permukaan yang lebih dingin. Misalnya, popok/ celana bayi basah
yang tidak langsung diganti.
4. Konveksi, yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara
sekeliling bayi. Misalnya, bayi diletakkan dekat pintu/ jendela terbuka.
Tindakan pencegahan hipotermia
meliputi ibu melahirkan di ruangan yang hangat, segera mengeringkan tubuh bayi
yang lahir, segera meletakkan bayi di dada ibu dan kontak langsung kulit ibu
dan bayi, dan menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh stabil.
Kejang dalam 1 jam pertama
kehidupan jarang terjadi. Kejang dapat disebabkan oleh meningitis ensefalopati
atau hipoglikemia berat. Pastikan bayi dijaga tetap hangat dengan membungkus
bayi menggunakan selimut lembut, kering, dan mengenakan topi untuk menghindari
kehilangan panas. Rujuk bayi segera ke tempat pelayanan kesehatan yang
mempunyai NICU.
Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernapas (frekuensi
<30>60 kali/ menit) beri oksigen melalui kateter hidung atau nasal prong.
Jika suhu aksila turun di bawah 35°C, hangatkan bayi segera. (Prof. Dr. Heller Luz. (1997). Gawat Darurat Ginekologi dan
Obstetri, Ed. 1.Jakarta: EGC Buku Kedokteran.)
DAFTAR
PUSTAKA
DepKes RI, 1992 Asuhan
Kesehatan Anak dalam Konteks keluarga
Saifudin Abdul Bahri.
2002. Buku panduan praktis pelayanan
kesehatan maternal neonatal.YBP_SP.Jakarta
JHPIEGO.2003. Panduan pengajar asuhan
kebidanan fisiologi bagi dosen diploma III kebidanan. Buku 5 asuhan bayi baru
lahir,Pusdiknakes.Jakarta
Usepno Hassan, Husein Alatas (ed), Hepatologi Anak dalam Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Buku 2, edisi 7, Bab 20, Infomedia,
Jakarta, 1997, hal : 519-522.)
Djuanda Adhi, dkk.2002.“Dermatitis Seboroik” dan “Tinea
Kapitis”, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas
Balai Penerbit (FKUI): Jakarta.
Lia, Dewi, Vivian Nanny. ASUAHAN NEONATUS BAYI DAN ANAK BALITA . Saleemba Medika .
Jakarta . 2010
Ngastiyah 1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta:EGC.
Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan.
Buku kedokteran EGC, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar